July 15, 2024
Business Health Life Style Uncategorized

Sosialisasi Harmonisasi Metode ACM menjadi ISO TC217 WG3 Tanggal 8 Desember 2023

Jakarta – Badan POM difasilitasi oleh Biro Kerjasama Luar Negeri telah melaksanakan sosialisasi hasil pertemuan ASEAN Cosmetic Testing Laboratory Committee (ACTLC) Ke-21 yang telah dilaksanakan pada tanggal 16 November (Video Conference) dan 21 November 2023 (di Singapura) serta pembahasan dan diskusi tindak lanjut Indonesia mengenai hasil pertemuan tersebut. Pertemuan dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 8 Desember 2023 di Hotel Aryaduta Jakarta Pusat yang dihadiri secara luring oleh Direktur Pengembangan Standar Agro Kimia Kesehatan dan Halal BSN, Direktur Sistem Penerapan Standar dan Penilaian Kesesuaian BSN, Kepala Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan (PPPOMN) BPOM, Direktorat Standardisasi Kosmetik BPOM, Direktorat Pengawasan Kosmetik BPOM, Tim jejaring ACTLC PPPOMN, Tim JLKI PPPOMN serta dihadiri secara daring oleh anggota JLKI dari instansi lain, yaitu Direktorat Standardisasi dan Pengendalian Mutu Kementerian Perdagangan, Balai Besar Kimia dan Kemasan Kementerian Perdagangan serta perwakilan dari PT Angler, PT. SIG, dan PT. SGS. Selaku Narasumber pada kegiatan kali ini adalah  Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani, Ph.D., IPU., ASEAN Eng. dari UGM selaku Project Leader ISO 22327 dan 2238-1, Mohd. Robi Amri, ST., M.Si mewakili Direktur Sistem Penanggulangan Bencana dan  Agus Purnawarman, S.TP, ME mewakili Direktur Pengembangan Standar Agro, Kimia, Kesehatan dan Halal, BSN

Kegiatan dimulai dengan paparan sosialisasi hasil pertemuan  dan tindak lanjut sidang ACTLC ke-21 oleh Kepala Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan, Badan POM dimana Indonesia telah menyelesaikan tugasnya untuk menyusun Laporan Akhir Manuskrip 1,4 Dioksan dan draft ASEAN Cosmetic Method (ACM) Penentuan Kadar 1,4 Dioksan dalam Kosmetik secara Kromatografi Gas Spektrometri Masa – HSS. Indonesia memperoleh apresiasi dari seluruh anggota ASEAN karena telah memimpin dan menyelesaikan tugasnya dalam melaksanakan pengembangan ACM mencapai versi final ACM untuk 1,4-Dioksan. Adapun draft ACM ini telah disetujui oleh seluruh anggota ASEAN pada Sidang ASEAN Cosmetic Committee (ACC) tanggal 22 dan 23 November di Singapura dan diadopsi sebagai ACM 011 yang kemudian akan dipublikasikan dalam website ASEAN oleh ASEAN Secretariat.  Pertemuan tersebut juga mencatat informasi dari Thailand bahwa ISO berupaya mengembangkan metode untuk 1,4-Dioxane yang kemudian meminta Indonesia untuk mempertimbangkan mengangkat ACM 1,4-Dioksan sebagai Metode ISO mengingat Indonesia (BSN) adalah participating member untuk ISO/TC 217 – Cosmetics. Indonesia menginformasikan bahwa pihaknya akan melakukan konsultasi internal mengenai masalah ini dan memberikan informasi terkait ini pada pertemuan ACTLC berikutnya. Sidang ACC menyetujui untuk ACM 1,4 Dioksan dilanjutkan berproses menjadi metode internasional ISO.

Selain itu, pada pertemuan ACTLC tersebut, Indonesia memberikan masukan mengenai perbandingan pedoman ASEAN dan usulan perubahan sesuai ISO 17516:2014. Indonesia menginformasikan bahwa untuk metode kuantitatif (produk untuk anak di bawah 3 tahun, area mata dan selaput lendir) dan kualitatif ISO 17516:2014 lebih ketat dibandingkan dengan pedoman ASEAN saat ini. Terkait dengan hal tersebut, Indonesia mengusulkan revisi pedoman ASEAN agar sesuai dan selaras dengan ISO 17516:2014. Usulan Indonesia ini disepakati untuk diangkat pada pertemuan ACC ke-38 sebagai usulan ACTLC serta menyetujui untuk meminta ACSB mempertimbangkan revisi pedoman berdasarkan temuan di atas.

Selanjutnya dilakukan pemaparan oleh Bapak Agus Purnawarman, S.T.P., M.E. selaku perwakilan Direktur Pengembangan Standar Agro Kimia Kesehatan dan Halal BSN mengenai alur dari proses pengangkatan suatu metode menjadi SNI dan ISO serta meng-highlight hal-hal penting yang harus diperhatikan ketika akan mengangkat suatu metode menjadi ISO, seperti penunjukan project leader, pembentukan tim, sumber anggaran yang akan digunakan, serta memastikan tidak adanya kesamaan judul atau metode yang diajukan dengan yang sudah ada di ISO.

Sharing pengalaman dan kiat sukses dalam mengangkat suatu metode menjadi standar ISO disampaikan oleh Prof T. Faisal Fathoni dari UGM yang menjadi Project Leader ISO 22327 dan 2238-1 dalam membawa metode SNI dari BNPB menjadi standar ISO. Beliau juga menyampaikan bahwa untuk menyukseskan project ini harus dipastikan metode yang digunakan dapat diterapkan di negara lain yang memiliki kondisi yang berbeda terutama perbedaan iklim. Selain itu, Indonesia harus membangun relasi yang baik dengan TC dan WG yang bersangkutan di ISO serta ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh TC atau WG yang bersangkutan sehingga dapat memperoleh banyak informasi yang dapat digunakan untuk menyukseskan project yang akan dilakukan. Sementara Mohd. Robi Amri, ST., M.Si mewakili Direktur Sistem Penanggulangan Bencana menyampaikan gambaran tugas dan ruang lingkup Komite Teknis 13-8, Penanggulangan Bencana dalam berproses menaikkan tiga Standar Nasional Indonesia menjadi ISO 2238-1: 2020, 2237:2018 dan ISO 2238-3; tentang EWS berbasis komunitas umum, longsor dan tsunami.

Pada kegiatan sosialisasi ini, diskusi mengenai tindak lanjut yang akan dilakukan oleh Indonesia terkait harmonisasi metode 1,4-Dioxane menjadi ISO memberikan kesimpulan untuk membangun komunikasi dengan Working Group 3 (WG 3) di TC 217 ISO karena terkait isu ini  Indonesia diberikan waktu 6 bulan ke depan untuk menindaklanjuti . Selain itu, Indonesia harus segera menunjuk Project Leader dan membuat tim yang memiliki komitmen tinggi dalam harmonisasi ini untuk jangka waktu 3-5 tahun ke depan, serta sepakat mengenai sumber anggaran yang akan men-support harmonisasi ini. Kemudian Indonesia harus segera mengalihkan atau membuat draft ISO dari draft ACM yang sudah ada dengan mengikuti kaidah yang sesuai dengan peraturan pembuatan draft ISO yang mana ini akan dipaparkan di sidang TC ada bulan April 2024 sebagai langkah awal kegiatan harmonisasi metode 1,4-Dioxane menjadi ISO.

Leave feedback about this

  • Quality
  • Price
  • Service

PROS

+
Add Field

CONS

+
Add Field
Choose Image
Choose Video